12 Januari 2016

Angkutan dan Barang Ikut Turun Harga

Tren harga minyak dunia diprediksi masih akan rendah hingga akhir 2018 sebagai akibat dari pasokan minyak di pasar global yang berlebih.

PENURUNAN harga BBM, terutama solar, yang menjadi Rp5.650/ liter dan premium menjadi Rp7.050/liter diharapkan menjadi pemantik bagi penurunan tarif angkutan dan harga barang sehingga lebih menggairahkan sektor produktif.

Plt Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Sugihardjo mengimbau pelaku usaha dan Organda agar segera menyesuaikan tarif angkutan.

Penyesuaian itu untuk mengurangi beban masyarakat terhadap biaya transportasi. “Sehingga uangnya bisa digunakan untuk sektor produktif,” tegasnya saat jumpa pers di kantor Kemenhub, Jakarta, kemarin.

Kemenhub, menurut Sugihardjo, se dang menghitung besaran penurunan tarif dasar rupiah per penumpang per kilometer untuk angkutan antarkota dan tarif jarak untuk setiap lintas penyeberangan pada angkutan penyeberangan. “Perhitungan menggunakan asumsi harga bahan bakar minyak dan multiplier effect.” Di tempat lain, Menteri Perindustrian Saleh Husin juga mengingatkan penurunan harga BBM mestinya diikuti penurunan harga barang-barang. “Ya, harusnya harga turun bisa mengikuti karena cost jadi lebih murah,” ungkapnya di kantornya, kemarin.

Ia menambahkan, penurunan harga barang ditujukan agar produk domestik memiliki daya saing lebih kuat, terutama menghadapi pasar bebas ASEAN.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta pun sepakat bahwa harga barang dan jasa hendaknya mengikuti penurunan harga BBM. Namun, mesti dilihat sektor apa saja yang memungkinkan ikut menurunkan harga.

Tutum menyebut harga barangbarang ritel amat mungkin akan ikut turun. Namun, hal itu tergantung pada harga pokok yang diberikan pemasok kepada mereka. “Kami hanya peritel, menjual barang hasil produksi dari produsen. Penurunan harga semestinya ada, tapi tergantung produsen juga.

“ Harga minyak rendah Terkait dengan harga BBM, ruang penurunan sepanjang tahun ini tampaknya cukup lebar. Salah satu pemicunya ialah tren harga minyak dunia yang diprediksi cenderung masih akan rendah hingga akhir 2018. “Jika melihat Bloomberg, minimal sampai akhir 2018 angkanya masih rendah,“ kata Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi di Jakarta, kemarin. Menurutnya, lemahnya harga minyak dunia itu disebabkan pasokan minyak di pasar global yang berlebih.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro menilai ketegangan antara Arab Saudi dan Iran bisa saja memengaruhi harga minyak dunia.“Kalau terjadi perang, harga naik. Kalau hanya perang urat saraf sambil tetap genjot produksi, malah semakin turun.Jadi, ada dua kemungkinan.“ (Ire/Arv/ Jes/E-1) Media Indonesia, 6 Januari 2016, Halaman 17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar